HIKAYAT
(Keutamaan Do'a II)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin 'Ali Al-Hanafi menyebutkan dalam syarahnya atas kitab "Al-Lum'ah al-Barniyyah" ketika membicarakan nama Allahﷻ: "Baasith" bahwa seorang sahaya perempuan milik Abi Darda' memberinya makanan beracun 40 kali, tetapi tidak membahayakannya, karena ia membaca:
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
(Latin: Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim).
Setiap kali hendak memakannya.
Ibnu Dhafar menyebutkan dalam kitabnya "An-Nasha'ib" sebagaimana dinukil darinya oleh Ad-Dimyari dalam kitab "Hayatul hayawaan."
Ia berkata dalam kitab itu: Sahaya itu berkata kepada Abi Darda' R.A.: Dari jenis apa, kamu ini?
Abu Darda' menjawab: Aku adalah manusia seperti kamu.
Sahaya itu berkata: Bagaimana engkau merupakan manusia, sedangkan aku telah memberimu makanan beracun sebanyak 40 kali, tetapi tidak membahayakanmu?
Abu Darda' menjawab: Apakah engkau tidak tahu bahwa orang-orang yang menyebut nama Allahﷻ tidak dibahayakan oleh sesuatu apapun. Aku duu menyebut nama Allah Yang Maha Agung.
Sahaya itu berkata: Apakah itu?
Abu Darda' menjawab:
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
(Latin: Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.
Artinya:
“ Dengan nama Allah yang tidaklah membahayakan dengan menyebut nama-Nya sesuatu apapun dibumi maupun dilangit dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Kemudian Abu Darda' berkata: Apa yang mendorongmu untuk melakukan itu?
Sahaya itu menjawab: Kebencian terhadapmu.
Abu Darda' berkata: Engkau merdeka demi ridha Allahﷻ. Engkau dimaafkan atas perbuatanmu.
Keberkahan memulai dengan menyebut nama Allahﷻ:
As-Syaikh Syarafuddin Asy-Syadzili berkata dalam kitabnya "Al-Lathifah al-Mardiyyah" yang merupakan syarahnya atas Hizbul Bahr oleh Al-Imam Abil Hasan Asy-Syadzili [Semoga Allah memberi manfaat dengan keduanya] ketika mengomentari kalimat. Bismillaahi baabuna (Dengan nama Allah pintu kita).
Ketahuilah bahwa Allahﷻ menetapkan bagi hamba apabila hendak memulai dalam sesuatu amalan agar ia menyebut nama Allah guna menunjukkan kepadanya bahwa segala sesuatu ada dengan nama Allah Ta'ala sehingga ia mengetahui hal itu dan menjadi kuat imannya dan bertambah kuat.
Begitu pula, apabila ia menyebut nama Allahﷻ, maka iapun diberkati pada sesuatu itu sebagaimana hal itu dijelaskan dalam hadits. Maka sesuatu yang sedikit menjadi banyak dan yang berbahaya menjadi bermanfaat berkat nama Allahﷻ.
Diriwayatkan dari Nabiyullah Musa A.S. bahwa ia sakit. Kemudian diletakkan kepadanya: Pergilah ke Gua (...). Di situ ada tanaman yang akan memberikan kesembuhan bagimu. Nabi Musa pergi dan menggunakannya. Maka Allahﷻ menyembuhkannya.
Kemudian ia sakit lagi seperti itu setelah beberapa waktu. Maka pergilah Nabi Musa dan menggunakan tanaman itu sebagai obat. Akan tetapi ia tidak sembuh.
Maka Nabi Musa berkata: Yaa Rabb, penyakitnya sama dan tanamannya sama. Kenapa jadi begini?
Allahﷻ menjawab: Karena pada kali pertama engkau pergi dengan perintah kami, maka kami menyembuhkanmu. Pada kali ini, engkau pergi sendiri sehingga engkau tidak sembuh.
Hai Musa, tidaklah engkau tahu bahwa dunia beserta isinya adalah racun yang mematikan dan yang bisa memperbaikinya hanyalah menyebut nama Allahﷻ atas dunia itu!
As-Syaikh berkata: Ini adalah pendidikan Allahﷻ atas para nabi-Nya ['Alaihimussholatu wassalaam] supaya tidak bergantung pada sesuatu selain Allah dan supaya mereka menjadi teladan bagi hamba-hamba-Nya.
Kemudian Asy-Syaikh berkata: Apabila engkau mengetahui hal itu, maka tiada sesuatu yang bisa membuka pintunya, kecuali dengan menyebut nama Allahﷻ pada hakikatnya.
Maka Apabila orang mukmin menyebutnya, ia pun diberkati karena menyebutkan ubudiyahnya. Oleh sebab itu, wajiblah atas hamba untuk tidak melakukan sesuatu dan tidak membuka pintu sesuatu hingga ia menyebut nama Allahﷻ supaya menjadi kuat imannya dan supaya perbuatan-perbuatannya disertai keberkahan-keberkahan nama Allahﷻ atasnya.
Asy-Syaikh berkata: Dan ketahuilah bahwa tiada sesuatu yang keluar dari tidak ada menjadi wujud, melainkan dengan keberkahan-keberkahan nama Allahﷻ dan kekuasaan-Nya, baik berupa gerak atau dalam keadaan diam, berupa pandangan atau lintasan pikiran, dilangit atau dibumi, baik berupa perbuatan atau Dzat.
Maka keghaiban tertutup atas manusia hingga pintunya dibuka dengan kekuasaan Allahﷻ dan pengaturan serta penciptaan-Nya yang agung, Allahﷻ berfirman:
۞ ...وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ
Artinya: Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)."
(Q.S. Al-An'am: 59)
Maka Allahﷻ memberitahukan kepadamu bahwa kunci semua yang ghaib ada di sisi-Nya dan dengan itu Dia membuka pintu-pintu ghaib-Nya, lalu mengeluarkan apa saja yang dikehendaki-Nya dari tidak ada menjadi wujud. Dan Allahﷻ telah menamai dirinya الْفَتَّاحُ, الْعَلِيمُ (Yang Maha Pembuka (semua yang ghaib), Yang Maha Mengetahui) ..... dan seterusnya hingga akhir pembicaraan.
***

Komentar
Posting Komentar